Menyisir Rambut Orang yang Sudah Mati


Cerita Seram - Arak-arakan itu sudah pergi. Bima dibawa oleh Ki Suratman menuju kampung tetangga. Warga Mojosari yang masih hidup mengungsi di sana. Kata Ki Suratman, ibu mertua Bima juga ikut mengungsi di kampung tersebut.

“Aku turut berduka atas kematian istrimu,” kata Ki Suratman membuka obrolan sambil berjalan.
“Ini masih ada hubungannya dengan Mojosari, Ki. Anjani mati dengan cara yang tidak wajar," timpal Bima.

“Ternyata saat kau menikahi Anjani di gubuk itu, si Kanti sudah bukan manusia lagi. Dia sudah menjadi sekutu setan dan istrimu adalah tumbal kelima. Dengan begitu, Kanti sudah menyempurnakan ilmu hitamnya,” jelas Ki Suratman.

“Jadi sudah ada pengantin yang meninggal sebelum aku menikahi Anjani?” tanya Bima. Ia menghentikan langkahnya.

“Iya. Sebelum Kanti dipasung sudah ada empat pengantin wanita yang mati. Sebelum kau menikahi Anjani, aku sempat menikahkan pasangan janda dan duda di gubuk si Kanti. Sampai sekarang mereka masih hidup. Dugaanku, Kanti ini hanya menumbalkan pengantin yang masih perawan saja,” kata Ki Suratman. Mereka berdua berjalan kembali melewati jalan setapak.

“Kalau memang Kanti sudah menyempurnakan ilmu hitamnya, kenapa dia masih menggangguku, Ki?"
“Kalau itu, aku tidak tahu,” jawab Ki Suratman, singkat.

Bima tidak menimpali lagi. Ia mengarahkan cahaya senter ke jalan setapak.
“Setelah pernikahan kalian, Mojosari dilanda penyakit.”

“Penyakit apa, Ki?” Bima mengerutkan dahi.
“Ada benjolan di punggung mereka. Semakin lama semakin besar. Setelah itu kempis dan mereka mati satu persatu dengan mengenaskan."
"Penyakit itu sama persis dengan yang dialami istriku, Ki."

Ki Suratman mengangguk, "Awalnya kami warga kampung mengobati benjolan itu dengan daun sirih, tapi tetap tidak berhasil. Dokter pun tidak sanggup menyembuhkan penyakit itu," lanjut Ki Suratman.
Ki Suratman menghentikan langkahnya. Dari kejauhan, ia melihat ada seseorang yang mendekat. Ia pun menarik tangan Bima, mengajaknya untuk bersembunyi di balik pohon. Dengan hati-hati, Ki Suratman dan Bima mengintip dari balik pohon itu.
“Itu Burhan, salah satu warga kampung Mojosari.”
Burhan berjalan sempoyongan sambil menggapai-gapai benjolan di punggungnya. Ia meringis kesakitan, lalu jatuh tersungkur. Bima hendak menolong lelaki itu. Tapi, Ki Suratman menahannya.

“Jangan! Kau lihat itu,” Ki Suratman menunjuk ke pohon yang menjadi sandaran Burhan.
Dari atas pohon, perlahan merayap sosok wanita berjubah hitam. Kukunya juga hitam dan panjang. Ia mendekati Burhan yang sedang kesakitan di bawah pohon.

Sosok wanita itu melilit leher Burhan dengan rambutnya yang panjang. Ia kemudian menarik tubuh lelaki itu ke atas pohon.

Wanita itu mencongkel kedua mata Burhan dengan kukunya yang hitam dan panjang. Burhan berteriak kesakitan. Sesaat kemudian, suara Burhan tidak terdengar lagi. Lehernya ditusuk menggunakan kuku oleh wanita itu. Setelah Burhan mati, tubuhnya dijatuhkan begitu saja dari atas pohon.

“Ayo kita pergi dari sini!” ajak Ki Suratman.
***
Di kamar Bima ada sebuah lemari besar yang ada cerminnya. Malam itu, Anjani duduk menghadap lemari. Ia minta rambutnya disisir oleh Zulfa. Seharian bersama Zulfa, Anjani tidak banyak bicara. Dia terkesan selalu murung dengan wajahnya yang amat pucat.

“Rambut Bu Anjani bagus ya,” puji Zulfa sambil tersenyum memandangi wajah majikannya di cermin.
Anjani tidak menimpalinya. Ia menatap cermin dengan tatapan kosong.

“Kalau boleh tahu, Bu Anjani ini asli mana ya?” tanya Zulfa.
“Mojosari,” jawabnya singkat.
“Itu di Jawa ya?”
Anjani mengangguk pelan.
“Eh... Bu Anjani kok di rambutnya banyak tanah,” Zulfa membersihkan butiran tanah yang menempel di rambut Anjani.
"Aku bersihkan dulu ya, Bu," lanjut Zulfa. Ia meniup butiran tanah yang menempel di sela-sela rambut Anjani.
Tidak lama berselang, terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
“Bu, ada yang ngetokin pintu. Zulfa cek dulu ya,” Zulfa pun beranjak dari kamar Bima.

Setelah ditelusuri, ternyata suara itu bersumber dari kamar tempat Anjani dikuburkan. Zulfa ingin sekali memeriksa kamar itu. Tapi, ia tidak diizinkan masuk oleh Bima.

“Halo! Ada orang di dalam?” tanya Zulfa.
Tidak ada jawaban sama sekali. Tapi suara ketukan pintu masih terdengar. Kemudian pintu itu terbuka sedikit. Suara deritnya terdengar nyaring. Zulfa mundur tiga langkah. Ia menjauh dari pintu itu. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan masuk ke dalam kamar itu.

“Kamu siapa?” tanya Zulfa tanpa melihat seorang pun yang muncul dari kamar itu. Zulfa yakin masih ada seseorang yang menghuni rumah ini.
“Kanti…,” jawab seorang perempuan dari balik pintu kamar. Suara itu terdengar parau, seperti orang yang sedang sakit.

____
Nantikan cerita horor Pengantin Jawa selanjutnya.

Baca juga

Posting Komentar